Puisi sepanjang zaman Rendra

Waktu SMA dulu saya melihat diperpustakaan sekolah ada buku warna coklat dengan cover

bergambar dua ekor cecak rendradan tulisan “Orang-orang Rangkas Bitung” ditengah dan tulisan “Rendra” dibagian atas. Waktu itu sejatinya saya mencari buku Chairil anwar, penyair yang pasti dikenal oleh anak-anak sekolahan dengan puisinya yang berjudul “Aku” itu.

Tapi gambar cecaknya menarik perhatian, dan setelah diliat isinya ternyata kumpulan puisi. Puisi yang mengalir indah, tutur katanya jelas dan gamblang kadang bablas. Penuh dengan kritikan cerdas, sindiran halus tapi pedas.  Berikut adalah puisi Rendra favorit saya:

DEMI ORANG-ORANG RANGKAS BITUNG

Tuan-tuan dan nyonya,
salam sejahtera!
nama saya Multatuli.
Datang dari masa lalu.
Dahulu abdi kerajaan belanda,
ditugaskan di Rangkasbitung,
ibukota Lebak saat itu.
Satu pengalaman yang penuh ujian.
Rakyat ditindas oleh bupati mereka sendiri.
Petani hanya bisa berkeringat,
tidak bisa tertawa,
dan hak pribadi diperkosa.

Demi kepentingan penjajahan,
kerajaan belanda bersekutu dengan
kejahtanan ini.
Sia-sia saya mencegahnya.
Kalah dan tidak berdaya.

Saya telah menyaksikan
bagaimana keadilan telah dikalahkan
oleh para penguasa
dengan gaya yang anggun
dan sikap yang gagah.
Tanpa ada ungkapan kekejaman
diwajah mereka.
Dengan bahasa yang rapi
mreka keluarkan keputusan-keputusan
yang tidak adil terhadap rakyat.
Serta dengan budi bahasa yang halus
mereka saling membagi keuntungan
yang mereka dapat dari rakyat
yang kehilangan tanah dan ternaknya.
Ya, semuanya dilakukan
sebagai suatu kewajaran.

Dan bangsa kami di negeri Belanda
pada hari minggu berpakaian rapi,
berdoa dengan tekun.
Sesudah itu bersantap bersama,
menghayati gaya peradaban tinggi,
bersama sanak keluarga,
menghindari perkataan kotor,
dan selalu berbiraca
dalam tata bahasa yang patut,
sambil membanggakan keuntungan besar
didalam perdagangan kopi,
sebagai hasil yang efisien
dari tanam paksa di tanah jajahan.
Dengan perasaan mulia dan bangga
kami berbicara
tentang suksesnya penaklukan dan penjajahan.
Ya, begitulah.
Kami selalu mencuci tangan sebelum makan
dan kami meletakan serbet
dipangkuan kami.
Dengan kemuliaan yang sama pula
ketika kami memerintahkan para marsose
agar membantai orang-orang Maluku dan orang-orang Java
yang mencoba mempertahankan
kedaulatan mereka!
Ya, kami adalah bangsa yang tak pernah lupa mencuci tanga.

Kita bisa menjadi sangat lelah
apabila merenungkan gambaran kemanusiaan
dewasa ini.
Orang Belanda dahulu
juga mempunyai keluh kesah yang sama
apabila berbicara tentang keadaan mereka
dizaman penjajahan bangsa Spanyol.
Mereka memberi gambaran yang buruk
kepada pangeran Alba yang sangat menindas.
Tetapi sekarang apakah mereka lebih baik
dari pangeran yang jahat itu?

Tentu tidak hanya saya
yang merasa gelisah
terhadap dawat hitam
yang menodai iman kita.
Pikiran yang lurus menjadi bercela
karena tidak pernah bisa tuntas
dalam mengangani keadilan.
Sementara waktu terus berjalan
dan terus memperlihatkan keluasan
kedalamannya.
Kita tidak bisa seimbang
dalam menciptakan keluasan ruang
didalam pemikiran kita.
Memang kita telah bisa berfikir
lebih canggih dan kompleks,
tetapi belum bisa lebih bebas
tanpa sekat-sekat
dibanding dengan keluasan waktu.
Bagaimana keadilan bisa ditangani
dengan pikiran yang selalu tersekat-sekat?
Ya, saya rasa kita memang lelah.
Tetapi kita tidak boleh berhenti disini.

Bukankah keadilan disini
belum lebih baik dari zaman penjajahan?
Dahulu rakyat Rangkasbitung
tidak mempunyai hak hukum
apabila mereka berhadapan dengan kepentingan
dengan Adipati Lebak.
Sekarang
apakah rakyat kecil sudah mempunyai hak hukum
apabila mereka berhadapan kepentingan
dengan adipati-adipati masa kini?
Dahulu
Adipati Lebak bisa lolos dari hukum.
Adipati-adipati yang kejam dan serakah
apakah sudah bisa dituntut oleh hukum?
Bukankah kemerdekaan yang sempurna itu
adalah kemerdekaan negara dan bangsa?
Negara anda sudah merdeka.
Tetapi apakah bangsa anda juga
sudah merdeka?
Apakah bangsa tanpa hak hukum
bisa disebut bangsa merdeka?

Para pemimpin negara-negara maju
bisa menitikan air mata
apabila mereka berbicara tentang democratie
kepada para putranya.
Tetapi dari kolam renang
dengan sangat santai dan penuh kewajaran
mereka mengangkat telefon
untuk memberi dukungan
kepada para tiran dari negara lain
demi keuntungan-keuntungan matei bangsa mereka sendiri.

Oh! Ya, Tuhan!
saya mengatakan semua ini
sambil merasakan rasa lemas
yang menghinggapi seluruh tubuh saya.
Saya mencoba tetap bisa berdiri
meskipun rasanya
tulang-tulang sudah hilang dari tubuh saya.
Saya sedang melawan perasaan sia-sia.
Saya melihat
negara-negara maju memberikan bantuan ekonomi.
Dan sebagai hasilnya
banyak rakyat dari dunia berkembang
kehilangan tanah mereka,
supaya orang kaya bisa main golf,
atau supaya ada bendungan
yang memberikan sumber tenaga listrik
bagi indusri dengan modal asing.
Dana para rakyat yang malang it, ya Tuhan,
mendapat ganti rugi
untuk setiap satu meter persegi dari tanahnya
dengan uang yang sama nilainya
dengan satu pak sigaret bikinan amerika.

Barangkali kehadiran saya sekarang
mulai tidak mengenakan suasana?
Keadaan ini dulu sudah saya alami.
Apakah orang seperti saya harus dilanda oleh sejarah?
Tetapi ingat:
sementara sejarah selalu melahirkan
orang seperti saya.
Menyadari hal ini
tidak lagi saya merasa sia-sia atau tidak sia-sia.

Tuan-tuan para penguasa dunia,
kita sama-sama memahami sejarah.
Senang atau tidak senang
ternyata tuan-tuan tidak bisa
meniadakan saya.
Nama saya Multatuli
saya bukan buku yang bisa dilarang dan dibakar.
Juga bukan benteng yang bisa dihancurleburkan.
Saya Multatuli:
Sebagian dari nurani tuan-tuan sendiri.
Oleh karena itu
saya tidak bisa disamaratakan dengan tanah.

Tuan-tuan para penguasa dunia,
apabila ada keadaan yang celaka,
apakah perlu ditambah celaka lagi?
pada intinya iniliah pertanyaan sejarah
kepada anda semua.
Tuan-tuan dan nyonya-nyonya
yang hadir disini,
setelah memahami sejarah,
saya betul tidak lagi merasa sepi.
Dan memang tidak relevan bagi saya
untuk merasa sis-sia atau tidak sia-sia,
sebab jelaslah sudah kewajiban saya.
Ialah: hadir dan mengalir.

Tuan-tuan dan nyonya-nyonya,
terima kasih.

Bojong gede, 5 Nopember 1990

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s